Humor

Saya mau lihat dari luar dulu

Suatu hari seorang klien menghubungi seorang Broker property dan menanyakan sebuah rumah yang dipasarkan dan yang kebetulan rumah tersebut masih ditempati penjualnya.

Klien: Tolong minta alamat rumah tersebut. Saya hanya mau lihat dari luar dulu. Kalau saya cocok, saya akan menghubungi Anda lagi dan membeli melalui Anda.

Broker: Jl. Simpang Siur IV no 4.

Satu minggu kemudian, Broker men-follow up klien dan klien menjawab sudah dapat rumah di lokasi lain. Ketika Broker sempat melintas di depan rumah Jl. Simpang Siur IV no 4, ternyata rumah tersebut sudah terjual dan yang beli adalah klien yang dulu mengatakan “saya hanya mau lihat dari luar dulu”.

Broker: wkwkwkwkw…..

Penjual dan Pembeli sama-sama aneh

Ketika sebuah unit ruko sedang ditawar Rp 5.1M, Penjual belum mau deal. Beberapa minggu kemudian, Penjual menghubungi si Broker dan minta untuk men-follow up Pembeli yang dulu nawar Rp 5.1M. Penjual memberi isyarat bahwa dia akan melepas ruko tersebut di harga Rp 5.1M. Pembeli dengan santai menjawab kalau boleh Rp 4.9M, saya ambil deh. Penjual menghubungi si Broker lagi agar men-follow up pembeli yang sama dan akan melepas di posisi Rp 5M. Merasa dikejar, Pembeli tetap mokong menawar Rp 4.9M. Beberapa hari kemudian ruko tersebut akhirnya terjual (dibeli saudara Pembeli tersebut, tapi tidak melalui broker) dengan harga sekitar Rp 5M (bahkan mungkin di bawah Rp 5M).

Saatnya bayar DP, malah batal…

Setelah Broker men follow up buyer ruko, akhirnya terjadi deal. Sambil tunggu proses KPR Bank, pembeli berjanji akan membayar Down Payment dulu sebagai tanda keseriusan. Ketika Broker mengingatkan pembeli untuk segera transfer DP pada tanggal yang sudah dijanjikan sendiri, dengan ringan pembeli menjawab: Maaf, saya batal, tidak jadi membeli ruko tersebut karena saya merasa ukuran luas tanah kurang besar….

Giliran sudah pelunasan, Penjual sibuk terus……

Ketika Akte Jual Beli sudah ditandatangani oleh Penjual dan Pembeli, dan dana pelunasan belum masuk ke rekening penjual, Si Broker yang telah membantu mencarikan pembeli, mendapat telpon berkali-kali dari Penjual. Si Broker pun membantu menguruskan ke Pihak Pembeli dan memastikan apakah Pembeli sudah transfer atau belum. Begitu diperoleh bukti transfer dari Pembeli, Si Broker pun memberikan konfirmasi kepada Pihak Penjual. Karena ditelpon tidak diangkat, Si Broker pun meninggalkan sms ke nomor handphone Penjual. Setelah ditunggu seharian, tidak ada jawaban, maka Broker pun sekalian mengajukan penagihan fee jasa perantara kepada penjual. Akhirnya Penjual hanya menjawab singkat: masih repot dan banyak urusan, belum sempat ke bank untuk cek ke rekeningnya. Pada hari berikutnya, Broker mendapat jawaban yang bernada mirip: Belum sempat cek rekening, sedang urus saudara yang sakit, sedang keluar kota, dll.

Direspon Pembeli Jauh, Dibeli Saudara Dekat…

Setelah lama tidak mendapat respon, sebuah property yang sedang dipasarkan Broker di sebuah desa Gunungkanji, akhirnya diminati oleh seorang Ekspat dari mancanegara. Setelah Si Ekspat survey lokasi beberapa kali, dia tertarik dengan property tersebut dan hendak mengajukan penawaran. Ironisnya Broker mendapat jawaban dari Pemilik: “maaf…rumah tersebut akan dibeli oleh adik saya sendiri”.

Luas bangunan bisa melar kali…

Seorang klien merespon sebuah property yang ditayangkan di website. Di dalam web tersebut sudah ditulis bahwa luas bangunan adalah 800m2. Sebelum survey, si Broker menanyakan ke klien apakah luas bangunan 800m2 cukup untuk kebutuhan usahanya. Klien menjawab, tidak cukup karena dia membutuhkan luasan minimal 2000m2. Broker berkata kalau memang tidak cukup, ngapain disurvey. Klien jawab gak papa….saya survey dulu saja. Karena klien mendesak ingin survey, akhirnya Broker pun membuka pintu gudang untuk survey. Setelah klien survey, Broker men follow up klien tersebut dan menanyakan apakah cocok dengan gudang yang disewakan tersebut. Klien menjawab: Maaf kurang cocok, gudang terlalu kecil…..Broker hanya bisa berkata dalam hati: luas bangunan bisa melar kali setelah disurvey….bukankah sudah dibilang luas bangunan hanya 800m2, geeerrrrrr………

Konsultasi ke Broker A, titipnya ke Broker B

Seorang pemilik property menghubungi Broker A. Dia menanyakan detail sekali soal harga pasar, appraisal broker tersebut terhadap property yang akan dijual, berapa harga yang pantas dibuka untuk property tersebut, syarat-syarat apa saja yang harus disiapkan untuk menitipkan property tersebut untuk dipasarkan dll. Dengan sabar Broker A menjawab semua pertanyaan orang tersebut. Di akhir pembicaraan, si pemilik property mengatakan akan menyiapkan berkas-berkas yang diminta oleh Broker A untuk proses pemasaran property. Property tersebut terletak di jalan besar yang setiap hari dilewati oleh Broker A. Sekitar seminggu kemudian, Broker A mengamati lokasi property tersebut dan ternyata sudah ada spanduk baru yang dipasang dengan nama broker B. Broker A hanya bergumam dalam hati “kok ada ya jenis manusia seperti itu di muka bumi ini”….wkwkwkwkw…..

 

Setelah laku, kasih kabar saja tidak…

Seorang Broker mendapatkan tugas untuk memasarkan sebuah rumah untuk disewakan di sebuah perumahan area Kedungmundu Semarang. Setiap kali Broker memasang iklan di koran, dia memberi kabar pada Pemilik rumah. Broker sudah mengantar beberapa calon Penyewa untuk survey ke rumah tersebut tetapi belum ada yang cocok. Beberapa bulan kemudian Broker mengantar lagi seorang klien untuk survey rumah tersebut. Kondisi rumah tersebut agak berbeda…seperti ada yang tinggal di dalam rumah tersebut. Dengan sedikit ragu-ragu Broker membuka pintu dengan kunci yang ada padanya. Betapa terkejutnya dia, ternyata benar rumah tersebut sudah dihuni. Dengan cepat Broker segera mengunci pintu kembali dan menanyakan pada Pemilik apakah rumah tersebut sudah tersewa. Dengan santainya Pemilik menjawab iya benar rumah tersebut sudah disewa orang. Broker hanya bisa berkomentar dalam hati: Oalah….saat belum laku, tanya-tanya terus, begitu sudah laku, kasih kabar saja tidak……